NIAT KETIKA BELAJAR
Pada saat mempelajari suatu ilmu
wajib mempunyai niat. Niat adalah kunci dari segala amal, sebagaimana sabda
Nabi dalam hadis shahih: ”Sesungguhnya sahnya amal bergantung pada niatnya.”
Ketika menuntut ilmu berniatlah
mencari rhido Allah Ta’ala, mengharap kebahagiaan di akhirat, menghilangkan
ketidaktahuan yang ada pada dirinya dan orang lain, menghidupkan agama,
melestarikan Islam karena keabadian Islam adalah dengan ilmu. Tidak akan
mendapatkan kebenaran dalam zuhud dan takwa kecuali dengan mengetahui ilmunya.
Hendaklah dalam menuntut ilmu
diniatkan untuk mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan, dan tidak diniatkan
untuk mencari muka dihadapan manusia, mencari kenikmatan dunia atau untuk
mencari kedudukan dihadapan penguasa.
KESUNGGUHAN, TIDAK PUTUS ASA DAN BERCITA-CITA MULIA
Dalam menuntut ilmu haruslah
sungguh-sungguh, dan tidak pernah terhenti. Allah mengisyaratkan hal ini dalam
firman-Nya: ”Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami pastilah akan kami
tunjukan kepada mereka jalan kami.”
Artinya, siapapun yang punya suatu
cita-cita dan ia sungguh-sungguh dalam berusaha mendapatkannya maka pasti akan
ia dapatkan, siapapun yang terus-menerus mengetuk pintu untuk mencapai yang
dicita-citakan maka pasti akan terbuka. Apapun yang kamu inginkan bergantung
dari seberapa besar keinginanmu itu.
Tetapi, dalam usaha mencapai
kesempurnaan menuntut ilmu maka akan lebih sempurna bila didukung oleh
kesungguhan tiga elemen yang sangat menentukan dalam mencapai kesempurnaaa
ilmu. Tiga elemen tersebut adalah murid itu sendiri, guru, dan orang tua jika
masih hidup.
Hendaknya dalam menuntut ilmu tak
putus asa dan selalu menelaah ulang pelajaran yang telah lewat. Menelaah ulang
paling baik dilakukan diantara maghrib dan isya dan waku ketika menjelang
shubuh. Dua waktu tsb adalah waktu yang penuh berkah.
Masa muda adalah masa yang terbaik
dalam menuntut ilmu, karena masa muda adalah masa yang paling lama dilalui.
Dalam menerapkannya hendaknya tidak dengan memaksa diri dan tidak memperlemah
sehingga tidak mampu melakukan sesuatu. Ia harus memperhatikan dirinya sebai
modal sukses dalam segala hal.
Rasulullah SAW, bersabda: “Ingatlah,
Islam ini adalah agama yang kuat. Perhatikanlah dirimu dalam menjalankan agama
dan jangan kau sakiti dirimu dalam beribadah kepada Allah SWT karena orang yang
telah lemah kekuatannya tiada mampu melintasi bumi dan tak mempunyai sarana
yang utuh."
LANGKAH AWAL, UKURAN DAN TATA CARA BELAJAR
1.Tahap Awal Belajar
Pelajaran yang diberikan adalah
pelajaran yang diperkirakan mampu dikuasai dalam dua pertemuan. Kemudian pada
hari berikutnya ditambahkan kalimat demi kalimat, sehingga apabila telah banyak
yang ia dapatkan maka ia tetap mapu menguasai hanya dengan dua kali
pengulangan. Begitulah terus ditambahkan tahap demi tahap. Adapun bila pada
pelajaran pertama langsung diberikan pelajaran yang banyak, sehingga butuh
sepuluh kali untuk menerangkannya, maka sampai pelajaran terakhir akan tetap
demikian dan akan menjadi kebiasaan yang sulit dihapuskan kecuali dengan usaha
yang berat. Ada yang berkata, “ tahap pertama adalah satu huruf tetapi
pengulangannya seribu kali.”
Kemudian hendaklah dicatat pelajaran
yang untuk kemudian ditelaah ulang dikuasai. Ini sangat bermanfaat sekali.
Tetapi janganlah mencatat sesuatu yang tidak mengerti karena hanya membuat
letih, menghilangkan kecerdasan dan membuang-buang waktu.
Berusaha untuk selalu memahami apa
yang didapat dari guru, atau memahami dengan cara menganalisa, memikirkan dan
mengkaji ulang. Pelajaran awal yang selalu ditelaah akan dapat dikuasai. Ada
yang berkata, “manghafal dua huruf lebih baik daripada hanya mendengar dua
kalimat dan memahami dua huruf lebih baik daripada menghafal dua kalimat.
Apabila tidak paham dalam suatu
palajaran dan sama sekali tidak berusaha untuk memahami maka akan menjadi suatu
kebiasaan, sehingga akibatnya lemah dalam memahami sesuatu kalimat yang
sebenarnya mudah. Disamping sungguh-sungguh dalam belajar harus pula disertai
doa kepada Allah SWT dengan penuh harap. Allah SWT menyukai hambanya yang
selalu berdoa dan Allah tidak menolak permohonan hambanya.
2. Bermusyawarah
Sesama pelajar haruslah bertukar
pikiran (muzhakarah), saling diskusi (munazharah) dan memecahkan masalah
bersama-sama (mutharahah) dan dilakukan dengan penuh kesadaran, tenang dan
penuh pendalaman serta tidak gaduh. Kesemuanya adalah bentuk dari musyawarah
untuk merumuskan mana yang benar.
Musyawarah tidak bisa dilakukan
dengan emosi dan dalam suasana yang gaduh. Apabila diskusi dilakukan untuk
maksud saling menjatuhkan dan saling mengalahkan maka tidaklah boleh dilakukan.
Musyawarah hanya dibenarkan untuk melahirkan kebenaran. Berbicara yang tidak
jelas arahmya dan beralasan yang tidak semestinya tidaklah dibenarkan dalam
bermusyawarah. Apabila percekcokan dengan lawan bicara masih dalam kerangka
mencari kebenaran maka tidaklah mengapa.
Berdiskusi dan tukar pikiran
pastilah lebih berguna daripada menelaah sendiri. Diskusi, disamping berfungsi
menelaah ulang juga akan menambah ilmu. Ada yang berkata, “diskusi dalam sesaat
lebih baik dari menelaah selama satu bulan.
Hindarilah bermusyawarah dengan
orang yang suka bertengkar dan tidak bertabiat baik. Tabiat mudah dipengaruhi,
akhlak mudah menjadi kebiasaan dan dalam suatu perkumpulan sangatlah
berpengaruh.
3. Berpikir dan Berbicara yang Tepat
Dalam setiap waktu, berusahalah
untuk selalu mengadakan pengamatan pada ilmu-ilmu yang sulit hingga menjadi
kebiasaan rutin. Ilmu yang sulit hanya dapat dipecahkan dengan cara mengkaji
secara mendalam.
Ketika hendak berbicara hendaknya
dipikirkan terlebih dahulu. Perkataan itu bagaikan anak panah, maka sudah
seharusnya meluruskan pembicaraan agar sesuai dengan apa yang dimaksudkan
4. Bersyukur dan Tidak Tamak
Seseorang yang berbadan sehat dan
normal pikirannya maka tidak ada alasan untuk tidak menuntut ilmu. Apabila
berharta banyak, maka alangkah nikmat bila kekayaan itu dimiliki oleh orang
yang shalih. Salah seorang yang alim ditanya, “Dengan apa kamu mendapatkan
ilmu?” Ia menjawab, “Ayahku adalah orang kaya. Kekayaannya dimanfaatkan untuk mengabdi
pada ahli ilmu dan orang-orang yang mulia.“ Ini juga dapat menjadi penunjang
ilmu dan bentuk syukur atas nikmat akal dan ilmu. [Jundullah]









:)
:-)
:))
=))
:(
:-(
:((
:d
:-d
@-)
:p
:o
:>)
(o)
[-(
:-?
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
:-$
(b)
(f)
x-)
(k)
(h)
(c)
cheer




